Saturday, July 30, 2011

Teman. Profesional. Kontrol diri

Pelajaran berharga saya dapat minggu ini soal hubungan pertemanan, relasi profesional, dan kontrol diri yang kuat dalam pergaulan. Susah deh ketika kita berada dalam suatu proyek formal dimana di dalamnya kita bekerja sama dengan orang yang kita kenal dekat, bisa dibilang teman, yang dengannya kita bisa sangat nyaman bekerja. Kenyamanan ini bisa jadi bumerang ketika kita tidak dapat memisahkan antara hubungan pertemanan dan relasi profesional. Strata dan kasta akan selalu ada. Posisi dan jabatan sangat perlu diperhitungkan ketika kita terlibat dalam suatu proyek formal dimana PROFESIONALITAS sangat dibutuhkan.

Baru saja saya terlibat (yang saya persepsi sendiri sebagai) KONFLIK dengan teman sekaligus bisa dibilang atasan (sesuai strata dan kasta dalam proyek formal ini). Saya kebablasan bercanda di dunia maya (ini poin yang paling gila kayanya). Awalnya tanpa sadar saya lontarkan begitu saja, yang ternyata setelah terjadi, saya pikir ulang, tidak pantas saya tujukan kepada beliau. Beliau yang juga teman dan sekaligus orang saya hormati, memang sangat tidak pantas menerima satu pernyataan saya tersebut -yang walau sebenarnya juga hanyalah bercandaan. Nasi sudah menjadi bubur alias sudah terlanjur. Saya segera meminta maaf kepada beliau dan belum mendapat jawaban. Saya mulai PANIK. Saya cemas hubungan kami (mungkin) menjadi rusak. We're perfect before. Gara-gara kontrol diri saya yang lemah dengan bercandaan yang juga ga lucu tersebut, hubungan saya (mungkin) dengan beliau menjadi rusak. No. I won't let this sh*t to happen. Jadi saya memikirkan kemungkinan berbagai cara.

Curhat sana sini dan meminta pendapat kepada beberapa orang sahabat pun dilakukan dalam rangka controlling the damage. Beruntung saya dikelilingi sahabat yang dapat memberi masukan positif without judging or blaming me. Beberapa poin penting hasil curhat yang saya tangkap dari pengalaman berharga ini kurang lebih seperti ini:
1. Saya tidak bisa langsung mengejar-ngejar beliau untuk menyelesaikan masalah ini dengan segera. Seberapa paniknya pun saya! Saya harus memberinya waktu.
2. Belum tentu dia keberatan atau menganggap ini sebagai masalah. Yess it is only in my mind. Bisa saja dia santai aja (yah tho beliau santai saja, tetep deh i feel so sorry, need to apologize cos what i've done is inappropriate)
3. Be positive, belum tentu dia kesel atau marah atau tersinggung seperti apa yang saya khawatirkan. (kurang lebih sama dengan poin 2) Saya harus tetap BERPIKIR POSITIF
4. Jangan pernah bercanda bawa titel
5. Be profesional, sedekat-dekat sekenal-kenalnya teman ketika berada dalam konteks proyek formal, profesionalitas tetap harus dijaga. Inget strata, kasta, dan posisi itu tetap akan selalu ada. Penting untuk menentukan posisi kita dan tahu diri.
6. Jangan sembarangan becanda di dunia maya! Bila kita mau share sesuatu di dunia maya, please share hal yang penting dan bermanfaat buat banyak orang. Bukan cuma hal pribadi yang diumbar tanpa tujuan.

Ternyata benar adanya.. pengalaman hidup adalah pelajaran paling mahal dan berharga. Bayarannya harga diri, nama baik, dan masa depan. Ga ada yang ngajarin loh, ga di sekolah termahal dengan guru terjenius sekalipun! Saya harus ngalamin sendiri, trial error, menanggung malu perasaan ga enak dan resiko kehilangan teman supaya bisa tahu mana yang pantas -dan tidak pantas dilakukan dalam hidup.

Penting ni soal kontrol diri.. Bijak adalah ketika saya memikirkan berbagai konsekuensi yang akan terjadi ketika saya hendak melakukan segala sesuatu. Bijak adalah saya memikirkan berbagai efek dari setiap pernyataan dan tingkah laku saya. Bijak adalah segala yang masih ada dalam pikiran saya, saya pertimbangkan baik-baik, apa dan bagaimana hal tersebut akan memberi dampak bila diutarakan. Puji Tuhan bisa mengalami hal ini sekarang, bekal untuk memasuki hidup (yang nampaknya bakal lebih rumit) ke depannya bisa di dunia kerja, hidup berkeluarga, hidup bermasyarakat, ya pokoknya hidup kita individu sebagai makhluk sosial di lingkungan jagat raya yang luaaaas ini. ;)


Thank you, you.. Dini Ajani, Ratna Tazkia Moersalin, Nanda Indrasapoetra, and Putri Utami for giving me the logical touch of thought for my not so sane mind.

1 comment:

ajeng sekar said...

:) puteeeee.. i heart you. gak nyangkaaa ya pute doyan nyampah tulisan juga di dunia maya.. :*